Penyebab setiap tahun angka kelulusan sebenarnya sistim ujian nasional kita yang salah atau kita semua para siswa yang salah ? Menurut saya : bukan sistimnya yang salah.
Siswa lah yang harus menyesuaikan sistem , bukan sebaliknya .
Lulus dengan penuh keyakinan
Penyebab setiap tahun angka kelulusan sebenarnya sistim ujian nasional kita yang salah atau kita semua para siswa yang salah ? Menurut saya : bukan sistimnya yang salah.
Siswa lah yang harus menyesuaikan sistem , bukan sebaliknya .
iyah betul.
tp coba pikirkan….
mengikuti sistem yg terus berganti, bukankah seperti permainan? *jadi inget lagunya gita ketawa… eh gita gutawa..*
satu hal yg petik, meskipun saya baru tahun depan akan mengikuti UAN, adalah
pemerintah tidak konsisten dengan kurikulum yg diyakininya bisa membuat kita lebih cerdas dengan kata lain meningkatkan mutu lulusan bangsa Indonesia.
kurikulum yang baru satu dua tahun langsung diganti dengan yang baru, stiap kali pergantian mentri atau pemerintahan.
akibatnya murid,guru, dan orang tua jadi korban. harus terus menerus mengikuti ketidakpastian. hal ini disebabkan pemerintah maunya instan. setahun langsung jadi, setahun langsung mutu bagus. mana bisa ya… pendidikan itu butuh proses, butuh prasarana , orang di desa aja sulit pendidikan masuk *angka buta aksara aja masih tinggi*
gimana mw menghasilkan kualitas tinggi?
dan lagi menurut saya,
materi ujian terlalu banyak dan padat sehingga sulit bagi murid untuk mengerti, menghapal itu smua, jika pemerintah ingin mengikuti sistem pendidikan negara maju yang memang menerapkan standar kelulusan tinggi di negaranya, bok ya contoh juga cara pengajarannya, apa saja usaha mereka dalam pencapaian standart itu. tingkatkan juga sarana prasarana, mutu pendidik, dan yg terutama, apapun yg kita kerjakan gag akan berhasil kalau MORALITAS BANGSA kita gag beres.
hayo dong, mereka yg di negara maju bisa, masa kita nggak?
ayo sama2 berproses, jgn mw nya instan aja! mulai dari diri sendiri
blogwalking.. salam
berkunjung ke tempat sampeyan,
Saat ini dikala banyak siswa yang tidak lulus dibilanglah sistem pendidikannya yang salah, kurikulumnya kegemukan, gurunya yang ngawur dan tidak kompeten, kalo siswanya hmmmmmm …. berdasarkan beberapa data “katanya” ada yang masuk tim olimpiade koq tidak lulus UNAS wah wah kalo yang tim olimpiade internasional nggak pernah kedengeran tuh, tapi kalo cumah tim olimpiade tingkat kota yang notabene bisa diakalin biar ikut cumah mewakilin skulnya aja buanyak ….
Nah bagian ini perlu dipertanyakan lagi
Siswa sekarang sulit menyesuaikan diri dibandingkan zaman dahulu (saya nggak tahu sejak kapan) saya sendiri lulus dari SMA taon 1991 sempet setaon tidak kuliah trus kuliah tahun 1992 lewat SPMB masuk jadi Guru Fisika sampe sekarang akhirnya kerja di kota sendiri cuma segini saja kedigjayaannya ….
mudah-mudahan siswa-siswi kita yang sekarang hobi nge-blog melek internet tidak gaptek kayak gurunya ini bisa
menyesuaikan dengan sistem pendidikan Indonesia yang terkenal suangat susah, insidentil, naif, diversifikatif, tidak fokus pada tujuan dan gol menurut UUD 1945 yang sudah diamandemen dan GBHN yang taon berapakah itu ?
Sekali lagi masih berkutat di tingkat manajerial dan pengambil kebijakan saja, pingin lebih susah jangan adakan UN tapi adakan SPMB, jika UN ditiadakan yah siswa dapat ijazah secukupnya dan disediakan lowongan untuk bertahan hidup dari pemerintah – terganjal lagi di legislatif – dana kurang anggaran terbatas — wah kompleks sanget
diperlukan sosialisasi …. tapi sosialisasi demi sosialisasi lama-lama tempat kita menjadi republik sosialis dan kekeluargais dong
Sekedar ingin berbagi. Yang bikin “panas” dan muak adalah kecurangan yang terjadi dalam UN. Memang benar siswa harus ngikutin sistem, tapi kalo karena ngikutin sistem moral bangsa makin ancur.. Anda mau? kalau saya sih tidak. Dan coba kita tinjau dari temen2 yang nggak lulus, apa rasanya ngeliat temen2 yang curang dapet bocoran malah lagi lompat kegirangan karena lulus ? (istilahnya gitu). Ya.. selama kecurangan UN masih terjadi pada sistem dan juga kita sebagai pelajar, nggak usah ngomonglah mana yang bener atau yang salah. Refleksi diri aja sendiri. Tapi saya setuju kalo kita harus punya niat juang untuk jadi lebih baik DENGAN CARA YANG JUJUR DAN TERPUJI tentunya.
Gudluck teman2!!
tadinya saya pro lhsama keputusan unas2008 yang 6 mata pelajaran. maksudnya, yah, kan jadi worthed-lah, apa yang sudah saya pelajari dan ulangani sampai jatuh bangun selama(hampir)3 tahun ini. tapi begitu baca kalimat terakhir tadi, saya jadi mikir, sungguh teganya-teganya-teganya dirimu berbuat begini, wahai para pemutus ‘kebijakan’ ini. menurut saya, jadi nggak bijak lagi begitu ada tulisan begitu.
jadi, para pendidik ada untuk para anak didik, dan sistem pendidikan ada untuk mengurus dan menyejahterakan dunia pendidikan. jangan semen-mena dong bikin keputusan. yang mutus mah enak, tinggal ngomong aja. kami para sisiwa-i yang menjalani cuma bisa ndomblong dibuatnya, makin bingung dari tahun ke tahun, sebenernya kami ini mau dididik jadi apa? apa cuma dididik untuk bisa ngerjain soal apapun yang disodorkan di depan mata?
lelucon ala bapak saya sih, guru-guru jaman sekarang ngajarnya pada nggak beres dan nggak loyal biar murid2nya pada les, jadi gurunya bisa dapet penghasilan tambahan.
bayangin betapa mawutnya.
anda-anda para pemutus cuma bisa mengganti dan terus mengganti sistem. kalo sistem yang dulu saja belum bener, mau ditambal berapa kali pun gak akan beres. anda pikir dengan mengganti kebijakan, menaikkan standar kelulusan, orang indonesia bakal jadi lebih pinter?
anda tahu sendiri, ada seribu jalan yang rela dilakukan para peserta unas untuk dapat nilai bagus. bahkan, baru-baru ini saya dengar ada adik kelas saya yang masuk tahun ini merogoh kocek puluhan juta untuk mengatrol nilai uan smp-nya supaya bisa masuk di sekolah saya yang notabene memang sekolah paling ngetop di kota saya.
apa hal-hal seperti itu yang anda-anda maui?
tadinya saya kira–seperti tercantum secara eksplisit dalam pembukaan uud’45–tujuan dibentuknya negara indonesia merdeka adalah untuk “..mencerdaskan kehidupan bangsa..”, bukan “mencetak nilai bagus di rapot dan sttb”
tadinya saya pro lho sama keputusan unas2008 yang 6 mata pelajaran. maksudnya, yah, kan jadi worthed-lah, apa yang sudah saya pelajari dan ulangani sampai jatuh bangun selama(hampir)3 tahun ini. tapi begitu baca kalimat terakhir tadi, saya jadi mikir, sungguh teganya-teganya-teganya dirimu berbuat begini, wahai para pemutus ‘kebijakan’ ini. menurut saya, jadi nggak bijak lagi begitu ada tulisan begitu.
jadi, para pendidik ada untuk para anak didik, dan sistem pendidikan ada untuk mengurus dan menyejahterakan dunia pendidikan. jangan semen-mena dong bikin keputusan. yang mutus mah enak, tinggal ngomong aja. kami para sisiwa-i yang menjalani cuma bisa ndomblong dibuatnya, makin bingung dari tahun ke tahun, sebenernya kami ini mau dididik jadi apa? apa cuma dididik untuk bisa ngerjain soal apapun yang disodorkan di depan mata?
lelucon ala bapak saya sih, guru-guru jaman sekarang ngajarnya pada nggak beres dan nggak loyal biar murid2nya pada les, jadi gurunya bisa dapet penghasilan tambahan.
bayangin betapa mawutnya.
anda-anda para pemutus cuma bisa mengganti dan terus mengganti sistem. kalo sistem yang dulu saja belum bener, mau ditambal berapa kali pun gak akan beres. anda pikir dengan mengganti kebijakan, menaikkan standar kelulusan, orang indonesia bakal jadi lebih pinter?
anda tahu sendiri, ada seribu jalan yang rela dilakukan para peserta unas untuk dapat nilai bagus. bahkan, baru-baru ini saya dengar ada adik kelas saya yang masuk tahun ini merogoh kocek puluhan juta untuk mengatrol nilai uan smp-nya supaya bisa masuk di sekolah saya yang notabene memang sekolah paling ngetop di kota saya.
apa hal-hal seperti itu yang anda-anda maui?
tadinya saya kira–seperti tercantum secara eksplisit dalam pembukaan uud’45–tujuan dibentuknya negara indonesia merdeka adalah untuk “..mencerdaskan kehidupan bangsa..”, bukan “mencetak nilai bagus di rapot dan sttb”
rasanya tidak lulus juga apa apa.
masalahnya jangan sampai sistem pendidikan meluluskan siswa yang tidak layak lulus..
entah mengapa sekarang tuntutan harus lulus selalu muncul..
jamannya bapak saya SD, [60an], yang tidak lulus jauh lebih banyak dari yang lulus.
Sekarang? segala cara dilakukan untuk lulus prematur. Tanya Kenapa.
mank bener,,
mental siswa harus bener2 siap buat ngehadepin UAN
tapi,, mental siswa tu dah ‘down’ klo UAN-nya jadi 6 biji
jadinya,,
kalah sebelum bertanding dehh….
gmn bs menyesuaikan,.wong hampir stiap taon ganti sistem na,.tu nama na qt2 cm jd bahan percobaan!!!!!!
gmn gak stress
Bapak mentri pndidikan dan pemerintah.,dgn sangat tolong kasih suatu kebijakan yang
Efektif dan efisien bukan kebijakan yang kurang mutu., taon ni ktnya mapel kelulusan jadi 6 biji truz standar kelulusan dinaikan,itu bukan membuat anak bangsa menjadi cerdas atau bersemangat tetapi malah membuat moral anak bangsa menjadi buruk dan membuat mental anak bangsa down sblm mengikuti ujian.,
lihatlah sekilas un 2007 kemarin? berapa siswa yang bunuh diri? berapa siswa yang mengamuk dengan para pengawas un? berapa siswa yang jadi stres? apa ini yang diharapkan dengan sistem pendidikan di indonesia?
bayangkan saja sendiri bagaimana nantinya untuk un tahun 2008 ini, yang standar kelulusan dinaikkan dan juga mapel di tambah?
siswa…
apa ga salah…
saya sebagai siswa sedikit keberatan dg pernyataan anda…
kami para siswa belajar selama 3 tahun & bgtu bnyak pljran yg kami serap & kami terima…
kenapa status kelulusan kami hanya di tentukan oleh 3 mata pelajran saja…
dalam waktu hanya 3 hari saja…
& itu pun bukan oleh orang2 yg tau bagaimana kami sebenarnya, tp oleh orang2 yg tidak tau-menau soal diri kami…
sekrang siswa-siswi seperti kami hanya ingin lulus entah bagaimanapun caranya…
dari pada mereka benar2 menyerap ilmu yg sebenarnya…
apakah ini sistem yg benar2 akan menaikan kualitas generasi muda bangsa ini (seperti kami)…..
Saya adalah seorang siswa kelas 3 SMA yang akan menghadapi UN selasa nanti (2 hari lagi, sekarang tanggal 20 April 2008) saya ingin menyampaikan sebersit pikiran saya mengenai UAN.
Memang benar pernyataan anda bahwa para murid SMA haruslah menyesuaikan dirinya dengan sistim yang ada, namun yang menjadi pertanyaan apakah saya dan teman-teman saya setanah air harus mengikuti sebuah sistim yang tidak jelas? Apabila sistim itu sendiri bisa konsisten dan mempunyai tujuan, visi, misi, pelaksanaan yang bagus, Saya tentu akan menyesuaikan diri dengan sistim itu sendiri, tapi faktanya sistim dala UN ini menurut kami tidak konsisten (ingat tahun-tahun sebelumnya) dan tidak relevan (Ujian seharusnya mengujikan apa yang SUDAH dipelajari bukan yang HARUSNYA dipelajari menurut saya)
Saya menggaris bawahi poin kedua yakni ketidakrelevanan Ujian Nasional itu sendiri karena menurut saya ini adalah sebuah cacat yang sangat besar pada sistim pendidikan di negara ini.
Dan mari kita semua berpikir sejenak, sebenarnya apa tujuan dari UN? itu adalah standarisasi pendidikan di Indonesia, yang menurut saya dari tujuannya saja sudah goyah akibat dari pelaksanaan UN. Apakah anda tahu bahwa UN terdapat berbagai jenis Level soal yang disesuaikan dengan Level pendidikan di daerah yang diujikan, Misal jakarta dan Papua (tanpa bermaksud mendiskreditkan), jelas pendidikan di Jakarta lebih maju karena tersedianya sarana prasarana yang lengkap,tetapi di papua yang kondisi sarana dan prasarana yang tidak memadahi jelas akan sulit (BUKAN MUSTAHIL) untuk bersaing dengan daerah ini, apabila diberlakukan soal yang sama untuk standarisasi.
Faktanya bahwa UN bukanlah standarisasi pendidikan karena standar tiap daerah berbeda sehingga tidak bisa menjadi dikatakan untuk menjadi standarisasi pendidikan. Dan juga dapat kita lihat mengapa STANDARISASI menjadi penentu KELULUSAN?? Sungguh tidak masuk akal karena setahu saya makna kata standarisasi adalah untuk menentukan tolak ukur, namun kenapa penentuan tolak ukur tersebut dijadikan sebuah kriteria untuk lulus. Jadi bisa saya katakan bahwa sistim ini sudah melenceng dari tujuan awalnya yaitu Standarisasi, dan juga tidak konsisten dalam pelaksanaannya
Menurut saya pernyataan anda ada betulnya, namun menurut saya kita sebagai orang yang mempunyai akal budi seharusnya bisa memperbaiki sistim yang salah, jangan menyalah kan murid selalu, karena hanya orang bodoh yang mau mengikuti sistim yang bodoh, namun ketika kita tidak diberi pilihan, saya dan teman teman saya sebagai murid lah yang bodoh.
Inilah nasib para murid yang mungkin anda tidak ketahui karena apapun yang kami utarakan selalu “pura-pura” didengar(kaya iklan orang muda dipandang sebelah mata, tanya ken’apa?), semoga tulisan saya membantu anda untuk melihat tidak hanya dari satu sisi saja. terima kasih.
owww ia btw tolong minta doanya Untuk para murid yang akan mengikuti UN selasa ini hehe lupa kutulis tadi
salam bagi yang buka alamat ini
UN emang tidak mudah bagi anak SMA seperti saya saat ini. segala cara telah dilakukan. entah belajar bareng, entah membahas soal yang ada. semua telah dilakukan. tapi, apa mungkin bisa memenuhi standar yang telah ditentukan. apa setiap anak SMA mampu ?. emang masih menjadi sebuah momok dikalangan siswa.
terkadang saya berpikir, apa peningkatan standar kelulusan udah dipikir masak-masak. mungkinkah setiap hari berangkat dan pulang sekolah hanya ditukarkan dengan 6 pelajaran dan dalam waktu 3 hari?. mungkinkah kelulusan dapat tercapai maksimal?. mudah-mudahan saja semua yang ditargetkan pemerintah dapat tercapai dengan sukses. semuanya lulus.
saya terkadang kasihan dengan temen-temen yang orangtuanya kurang mampu jika anak mereka dinyatakan tidak lulus, mungkinkah dapat meniptakan masa depan indonesia yang cerah? dengan bertambahnya pengangguran karena tidak lulus. nia alasannya untuk memajukan indonesia sih boleh saja, tapi sertidaknya dalam menentukan standar kelulusan udah direncanakan secara matang dan pemberitahuan lebih awal tidak mendadak, seperti tahu ini, kegiatan udah berlangsung 3 bulan baru dapat berita kalau standar kelulusan dinaikkan. saya yakin kalau hampir semua siswa kaget, tidak hanya siswa guru-guru juga.
saran saya untuk mendatang kalau mau melaksanakan suatu program janga dadakan, setidaknya sudaha ada pemberitahuan 1 atau 2 tahun sebelumnya.
untuk semuanya do’ain moga moga saya, temen-temen saya, dan semuanya saja yang menghadapi UNAS dapat klulus dengan memuaskan. thank’s atas do’anya
pemerintah gembel,.,.,
kalo mau buat peraturan di pikir dong,.,.masa buat sekarang untuk di terapin besok,.,.masa baru semester 2 dikasih tau kalo uan 6 pelajaran,..,otak nya taro mana sih,.,.
kalo mau buat kebijakan gitu harus nya buat yang kelas satu sekarang dong biar ada proses persiapannya,.,.gembel,.,.,.,
terus sistim pendidikan di indonesia terlalu menghayal,.,
masa kita dikasih 13 lebih mata pelajaran yang dimana di setiap pelajaran kita di tuntut untuk bisa,.,.emang kita robot,.,.
coba kalo para petinggi diknas di suruh mana bisa,.,gw yakin gak bisa,.,.harus nya di fokussin dong,.,jangan semua nya,.,.kalo kita gak bisa satu kan yang lain bisa dikembangin,.,.jangan gara2 satu pelajaran gak bisa menghambat potesi kita yang lain,.,.,.,
setuju setuju,,,,
tp alngkah lebih baik klo kita tidak saling menyalahkan,,tapi sebaikny kita bercermin dari apa yang sudah kita alami,,,setuju,,??
@danang “harus nya di fokussin dong,.,jangan semua nya,.,.kalo kita gak bisa satu kan yang lain bisa dikembangin”
klo mw fokus, kan ada SMK,,,???
menurut gue, sekolah itu bukan hanya sekedar mengejar nilai bagus, tapi juga sebagai proses pembentukan, pengembangan dan pembelajaran untuk otak,,
knp bnyak matpel,,??jstru itu,,,smpe skrng aja menurut para ahli, kita hanya memakai 6-8% kemampuan otak yg sesungguhnya,,,,bnyak matpel justru akan semakin membantu pengembangan otak kita,,,,deal,,??
pizz men,,,^^v
kayak’nya mang sistemnya yang gak efektif sama sekali.
mang pemerintah kira kita ini semua kelinci percobaan???
masa depan orang kok dipertaruhkan???
oh ya satu lagi….untuk apa ya Matematika perlu dimasukan ke UN buat jur bahasa?
mang kalo saya mau masuk jurusan sastra perlu ngitung paragraf pake rumus parabola????
mang sistemnya acak adul udah, bikin kepala orang makin mumet aja!!!!!!!!
Hurrrrgggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!